OPINI
21 September 2026
21 September 2026
The Politic of Being Yourself: Persepolis dan Perjalanan Otonomi Perempuan
Staf Program INDEKS
Ketika struktur sosial dan politik mendikte batasan perilaku sehari-hari, keinginan individu sering terhambat oleh mekanisme yang dibuat penguasa secara halus maupun represif. Dalam memoar Persepolis karya Marjane Satrapi—seorang novelis grafis dan ilustrator asal Iran-Prancis yang dikenal luas lewat karya memoar grafis autobiografinya. Kehidupan masa remaja-dewasanya di mana Marjane mendeskripsikan dirinya kebetulan hidup di masa gejolak revolusi Iran dan perang Iran-Irak, tidak hanya menghadirkan kronologi personal, tetapi sekaligus cerminan kompleksitas antara otonomi diri di tengah kekuasaan represif. Otonomi diri adalah kapasitas utama manusia untuk berpikir, membentuk keyakinan, serta menentukan arah hidupnya. Konsep otonomi ini sejalan dengan Self-Determination Theory dari Ryan dan Deci, berarti kemampuan akan pilihan dan tindakan langsung yang bersumber dari internal diri tanpa tekanan, instruksi, manipulasi, atau paksaan eksternal lain. Namun, dalam Persepolis, kendali itu direbut oleh negara. Bahasa kekuasaan di sini tidak hanya bekerja melalui kekerasan fisik, melainkan juga lewat penataan ruang hidup dan pikiran. Pasca revolusi 1979 di Iran, kekuasaan teokrasi, yaitu tatanan pemerintahan berlandaskan ajaran agama yang ditafsirkan secara mutlak oleh penguasa. Kekuasaan berbasis teokrasi ini membatasi otonomi diri dengan mewajibkan aturan pakaian seperti berhijab bagi perempuan, menyebar aparat untuk mengawasi moral publik di jalanan, serta memasukkan doktrin ketaatan tunggal dalam kurikulum sekolah sehingga anak-anak tidak diberi ruang untuk bertanya. Segala ruang otonomi diri terasa menyempit semakin pesat ketika paman Marjane, Anoush, serta kawannya Niloufar dieksekusi sebagai bagian dari pembersihan politik yang berlawanan. Bahkan, perang hadir dan diproduksi menjadi instrumen kekuasaan dan kekuatan militer digunakan untuk mempersempit otonomi masing-masing warga negara. Perang juga melahirkan propaganda yang memanfaatkan isu sosial dan agama, di mana anak-anak dari keluarga miskin dijanjikan "kunci surga" untuk memotivasi mereka menjadi martir garis depan.
Kekuasaan yang ada juga membentuk norma gender yang tidak setara, tetapi juga memproduksi ekspektasi peran pada perempuan maupun laki-laki. Peneliti Nancy Fraser menjelaskan bahwa ketidakadilan seperti ini tidak cuma soal perlakuan fisik, tetapi juga karena budaya yang tidak memberikan pengakuan setara pada kelompok tertentu. Dalam karya pertama Marjane ini, represi terhadap perempuan dihadirkan melalui kontrol ketat atas tubuh, pakaian, dan mobilitas, sementara laki-laki diberikan ekspektasi maskulinitas yang dibentuk untuk kepentingan militerisme negara. Semua hal ini dirasakan Marjane semasa ia mulai beranjak remaja disertai penolakan dan rasa pemberontaknya yang tumbuh karena dididik dalam keluarga yang sadar politik. Hal ini membuat Marjane diterbangkan ke Vienna oleh orang tuanya, tetapi kebebasan dari represi negara otoriter tidak otomatis menyelesaikan persoalan otonomi.
Di Vienna, Marjane berhadapan dengan alienasi, stigma rasial, merasa asing terhadap budaya yang ada, hingga krisis identitas mendalam. Pengalaman ini menguatkan teori Amartya Sen yang menekankan bahwa kebebasan sejati tidak hanya bebas dari larangan formal semacam hukum yang ada, tetapi juga kapabilitas, sarana, dan pilihan seseorang untuk mampu hidup dengan nilai yang menurutnya berharga. Semua hal ini membuat Marjane memilih kembali ke Iran dan melanjutkan pendidikannya di Universitas Teheran. Sekembalinya Marjane di Iran, kesadaran dirinya terus diuji dalam kehidupan dewasa terutama mengenai pilihan personal seperti menikah dan bercerai dari pernikahan pertamanya. Kesadaran dan keputusan seperti ini merupakan upaya berkelanjutan untuk merebut kembali keberanian individu di tengah tatanan hukum, sosial, dan norma yang terkesan tidak seimbang pada saat itu, dibumbui dengan kehadiran sentimental neneknya yang mengingatkan Marjane untuk terus memilih dirinya sendiri. Tidak hanya keputusan rumit seperti bercerai, Marjane sering menampilkan hal ini juga dalam bentuk perlawanan kecil dirinya dan orang-orang terdekatnya seperti menikmati musik punk maupun pop, mengekspresikan seni, mengenakan simbol busana alternatif dengan sembunyi-sembunyi, bahkan berpesta di ruang privat. Marjane merefleksikan bahwa tiap individu akan terus merawat ruangnya untuk kebebasan personal.
Tanpa menyamakan konteks sejarah antara Iran dan Indonesia yang tentu amat berbeda, ada hal yang perlu direnungkan secara seksama. Bentuk kekuasaan apa yang sering membatasi otonomi perempuan dalam kehidupan sehari-hari? Hambatan yang bekerja begitu halus melalui tekanan norma sosial, ekspektasi domestik, stigma masyarakat, hingga represi norma gender di lingkungan kerja. Pengalaman semacam ini memang tidak pernah seragam, otonomi diri perempuan di Indonesia sangat ditentukan dengan lingkungan masing-masing individu tumbuh, dari wilayah tempat tinggal, generasi, hingga budaya lokalnya.
Persepolis hadir memberikan nasihat bahwa otonomi diri bukan pencapaian konstan yang selesai otomatis ketika seseorang terbebas dari kekuasaan otoritatif. Otonomi diri merupakan proses kompromi dan perjuangan terus-menerus untuk merawat kesadaran mendalam dalam hak memilih dan mempertahankan martabat manusia di tengah keadaan sosial yang seringkali berusaha mengendalikannya.